Dutacyber.com

MEMPAWAH – Tradisi Naik Dango memiliki makna lebih dari sekadar perayaan pascapanen bagi masyarakat Dayak. Bagi Anggota DPRD Kabupaten Mempawah dari Dapil Mempawah II, Alpian, tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur sekaligus pengingat pentingnya menjaga keseimbangan alam.

“Sebagai masyarakat petani, kami memiliki tradisi syukuran setelah panen padi yang biasa disebut Naik Dango. Ritual adat ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rezeki yang telah diberikan,” kata Alpian.

Alpian yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) mengatakan, nilai-nilai yang terkandung dalam Naik Dango tidak hanya berkaitan dengan hasil panen, tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungan tempat mereka hidup dan bekerja.

Karena itu, ia mengajak masyarakat Kabupaten Mempawah, khususnya Kecamatan Toho, untuk terus menjaga alam dan memanfaatkan sumber daya yang ada secara bijaksana.

“Pesan saya kepada masyarakat, mari bersama-sama menjaga lingkungan, bertani dengan baik, dan menjaga keseimbangan alam,” ujarnya.

Menurut Alpian, keseimbangan tersebut penting karena masyarakat saat ini menggantungkan kehidupan pada berbagai sektor ekonomi, mulai dari pertanian, perkebunan hingga aktivitas pertambangan rakyat.

Ia menilai sektor-sektor tersebut telah menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat. Namun, pengelolaannya harus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kepastian aturan.

“Kita berharap semua sektor yang menjadi sumber penghidupan masyarakat dapat berjalan dengan baik. Ekonomi bergerak, masyarakat sejahtera, tetapi lingkungan juga tetap terjaga,” katanya.