
Sebab, MBG bukan sekadar program pembagian makanan gratis. Ini menyangkut kesehatan dan masa depan anak-anak.
Publik Menunggu Tindakan Tegas
Masyarakat tentu berharap kejadian ini tidak ditutup-tutupi. Apabila memang hanya kesalahan teknis, harus dijelaskan secara terbuka dan diperbaiki. Namun jika ditemukan adanya kelalaian dalam pengawasan atau standar keamanan pangan tidak dijalankan, maka pihak yang bertanggung jawab harus diberikan tindakan sesuai aturan.
Media juga mendorong agar sampel makanan yang dipersoalkan dapat diperiksa secara objektif sehingga persoalan ini tidak berhenti sebagai isu atau rumor semata.
Pertanyaannya sederhana: jika makanan MBG benar-benar untuk memenuhi gizi anak, bagaimana mungkin makanan yang diduga mengandung ulat bisa sampai ke tangan mereka?

Kini masyarakat menunggu respons dari pihak pengelola MBG, SPPG, Pemerintah Kecamatan Teluk Pakedai, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan Badan Gizi Nasional.
Jangan sampai program yang seharusnya memberikan gizi justru menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua dan anak-anak.





Leave a Reply