
Pada bagian bawah bak dipasang jaring logam sebagai rongga sirkulasi panas yang berfungsi mendistribusikan suhu secara merata ke seluruh tumpukan jagung.
Untuk sumber panas, Riko memanfaatkan kompor semprot hasil modifikasi yang menggunakan bahan bakar oli bekas. Sementara untuk mendistribusikan udara panas secara optimal, ia memasang blower bertenaga listrik yang mampu mendorong panas ke seluruh bagian ruang pengering sehingga proses pengeringan berlangsung lebih efektif.
Hasilnya cukup mengesankan. Dalam satu kali proses, mesin Bad Driyer mampu menampung lebih dari dua ton jagung dengan waktu pengeringan sekitar enam jam.
Konsumsi bahan bakarnya pun sangat hemat, yakni kurang dari dua liter oli bekas untuk satu siklus pengeringan.
Selain mempercepat proses pascapanen, alat tersebut juga mampu menghasilkan kadar air jagung antara 9 hingga 11 persen. Angka tersebut berada di bawah batas maksimal kadar air yang ditetapkan Bulog, yakni 14 persen, sehingga kualitas jagung menjadi lebih baik dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Kapolsek Noyan, Iptu Suharyanto, S.H., memberikan apresiasi atas inovasi yang dilakukan oleh Riko.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa petani lokal memiliki kemampuan besar untuk menciptakan solusi atas berbagai tantangan yang mereka hadapi di lapangan.
“Riko merupakan salah satu petani jagung binaan Polsek Noyan yang telah kami dampingi selama lebih dari satu tahun. Inovasi yang ia ciptakan menunjukkan bahwa semangat, kreativitas, dan kemauan untuk maju dapat menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.





Leave a Reply